"Janji hanyalah pilihan kata yang terangkai indah diatas aturan dan tata bahasa”. Sejak berada di sekolah dasar-pun, guru telah mengajarkan kita merangkai kata. Apakah itu berarti guru telah mengajarkan kita berjanji?
__Aku rasa itu bukan! Guru sekedar mengajarkan pada kita makna yang terkandung dalam setiap kata dan kalimat. Kemudian mengajarkan bagaimana menyampaikan dalam bahasa. Sedangkan yang ku pahami dari janji, adalah serangkaian kata yang didalamnya terkandung impian, harapan, cita-cita, yang diyakinkan untuk dapat diwujudkan melalui tindakan dan perbuatan dalam kehidupan.
___Lalu apa bedanya dengan visi-misi? Hampir sama, namun sedikit berbeda. Dalam visi-misi terkandung impian, harapan, cita-cita dan jalan untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai. Namun, ia lebih longgar dan tidak mengikat layaknya janji.
___Lalu, apakah visi-misi para intelektual ormawa fip bisa dikatakan, janji? Mungkin “ya”, mungkin juga “bukan”. Saya yakin, para intelektual tersebut, yang sekarang menjabat sebagai ketua di ormawa telah mempertimbangkannya dengan matang setiap untaian kata yang mereka ucapakan dalam kata dan bahasa berbalut selongsong visi-misi. Buktinya, dahulu mereka berusaha meyakinkan kita semua, bahwa merekalah yang layak dan merasa paling mampu untuk mewujudkannya dalam kehidupan kampus.
___Aku yakin, banyak diantara mereka yang menolak pernyataan ini! Ya, itu pasti. Dalam batinnya akan muncul anti-tesis yang menyatakan, “bahwa saya tidak pernah menjajikan sesuatu manakala saya menjadi ketua ormawa fip. Saya hanya membuat visi-misi sebagai prasyarat dan formalitas belaka. Tak lebih”.
___Bila benar, itu urusan batin mereka. Yang ku ingat dan ku pahami, dahulu mereka berbicara dengan lantang kepada kami, visi-misi dan apa saja yang akan diperbuat jika menjadi ketua ormawa fip. Tentu, kalian juga masih ingat! Kita juga dipaksa membaca janji mereka yang tertulis dalam spanduk dan pamflet-pamflet yang mengotori kampus kala itu.
___Tiga bulan telah berlalu, inilah saatnya kita menagih janji manis para ketua ormawa. Sudah seberapa jauh tercapai. Ya, sekarang aku juga ingat, mereka ada yang menjanjikan kemajuan dan perubahan pada tingkat jurusan, fakultas, regional (Indonesia) hingga tingkat Asia. Akupun masih ingat kata manisnya, “Bila setengah periode tidak tercapai, saya siap mengundurkan diri”.
___Kekecewaan terbesar kami, pada lembaga tinggi di fip. Mereka sangat bangga, reponsif dan sibuk mengangkat isu-isu nasional dan internasional. Akantetapi, permasalah mendasar di ormawa dan fakultas tidak pernah mendapat perhatian. Mereka bangga mengibarkan bendera lembaga hingga Jakarta, tapi mereka lumpuh, tuli, bisu dan buta untuk mencari penyelesaiaan masalah di fakultas.
___Lihat dan cermati lingkungan sekitar kampus, apa yang bisa kalian perbuat dan lakukan untuk menyelesaikannya. Bila tidak mampu, tak perlu menyebut dirimu sebagai aktifis dan intelektual. Saran kami, segeralah tanggalkan jabatan dan tanggungjawab yang kalian perjuangkan dalam pemilwa. Masih ada waktu untuk membuktikan. Kami masih yakin, kalian diam bukan karena fasilitas dan beasiswa. [Semoga-Amin].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar