Jumat, 28 Januari 2011

PENDIDIKAN GENDER INKLUSIF UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (EDUCATION FOR SUSTAINABLE DEVELOPMENT)


Ringkasan Program Kretifitas Mahasiswa Gagasan Tertulis (PKM-GT)
mendapat Penghargaan DP2M DIKTI 2011


Diususlkan Oleh:
Zaenal Irawan, dkk.
dengan Dosen Pembimbing Ariefa Efianingrum, M.Si. 

Dalam menyukseskan pembangunan nasional dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk menjadi penggerak utama bagi seluruh sektor pembangunan nasional, yang diproses melalui pendidikan. Akan tetapi pendidikan sebagai proses pembudayaan banyak memunculkan problematikan berupa ketimpangan gender sebagai konsekuensi logis dari implementasi nilai gender tradisional hasil konstrak sosial budaya masyarakat. Dengan melahirkan diskriminasi, pelabelan negatif, tindakan kekerasan dan marginalisasi, yang dalam kehidupan riil dimasyarakat banyak menimpa perempuan. Sangat disayangkan, kondisi inipun terus dikukuhkan dalam proses pembelajaran melalui perangkat pendidikan dan pemeran utama pendidikan (guru) yang buta gender. Maka sewajarnya jika kualitas perempuan berada dibawah laki-laki dan tujuan  pembangun menjadi terhambat karenanya.

Melalui pendidikan gender inklusif ditawarkan sebuah solusi alternatif dalam mengurai permasalahan sosial yang berakar pada sistem gender tradisional  masyarakat untuk mewujudkan tujuan pembangunan sekaligus mendukung terpenuhinya komitmen pemeritah pada konvensi internasional seperti; EFA, Convention on the Right of Child, MDGs dan paradigma baru Education for Sustainable Development. Pendidikan gender inklusif merupakan model pendidikan tentang gender bagi semua orang (khusunya anak-anak) yang bersifat, dinamis, fleksibel, kompeherensif dan terintegral (hidden curriculum) untuk mempengaruhi, merekonstruksi dan membentuk pemahaman anak tentang nilai gender baru . Serta menjadi suplemen bagi program pegarustamaan gender dalam pendidikan. Guna memasyarakatkan konsep ini, dibentuklah Satuan Tugas (satgas) pendidikan gender inklusif yang terdiri dari; peneliti, para aktifis gender, LSM, pakar pendidikan, tokoh masyarakat, pemerintah hingga mahasiswa.

Satgas pendidikan gender inklusif memiliki fungsi utamanya berupa penelitian, pengembangan, dan pengkajian tentang model pendidikan gender yang relevan dengan kondisi lingkungan serta mensosialisasikan pada semua elemen pendidikan. Untuk lebih memfokuskan dalam pencapaian tujuan direkrutlah agen (duta) sosialisasi gender inklusif yang berasal dari pendidik/guru, kepala sekolah, maupun tokoh masyarakat yang telah teruji dan memiliki kompetensi. Satgas pendidikan gender inklusif juga melakukan pembinaan, penilaian, melakukan pelabelan atau sertifikasi berupa pengkategorian lembaga pendidikan misal; kategori “Sekolah Berkeadilan Gender”. Hal ini bertujuan memberikan jaminan kepada masyarakat terhadap nilai tambah dalam pendidikan, sekaligus menjadi sarana sosialisasi kepada masyarakan luas tentang isu gender untuk diperoleh kesadaran dan pemahaman masyarakat. Harapan lebih luas lagi jika bisa terbentuk daerah/kota yang masyarakatnya berkesetaraan gender/kota ramah gender.

Dengan adanya pendidikan gender inklusif diharapkan terbentuk sistem keyakinan baru dimasyarakat khususnya para generasi bangsa (anak-anak) dengan penuh kesadaran tanpa diskriminasi, subordinasi, stereotype marginalisasi, violence untuk bersama-sama berperan aktif dan berkontribusi bagi pembangunan  yang berkelanjutan untuk masa depan dari generasi ke genarasi. Inilah paradigma baru Education for Sustainable Development (EfSD).



 Semoga dapat bermanfaat #
dan menjadi refrensi pemikiran dalam  berkarya #
Download File

Tidak ada komentar: